Home / berita bola / Optimisme Timnas Indonesia Hadapi Piala AFF 2018

Optimisme Timnas Indonesia Hadapi Piala AFF 2018

Optimisme Timnas Indonesia Hadapi Piala AFF 2018 – Tujuan juara kembali diusung Tim nasional Indonesia pada Piala AFF 2018. Kompetisi antarnegara Asia Tenggara itu sudah sepantasnya dijuarai oleh Indonesia yang disebut salah satunya penggagas kompetisi yang awal mulanya bernama Piala Tiger itu. Tetapi Indonesia kenyataannya belumlah sekali juga mengusung trofi Piala AFF.

Dari 11 edisi, Indonesia terdaftar 5 kali hampir juara, alias runner-up. Diawali dari Singapura, Malaysia, sampai Thailand (3x), tidak dapat ditaklukkan Indonesia di partai puncak. Dari masa Bima Sakti masih tetap membela tim nasional menjadi pemain sampai saat ini ia jadi Kepala Pelatih Tim nasional, Indonesia belum juara. Bima Sakti memang diinginkan memutuskan catatan hampir juara itu.

“Saya dahulu cocok namanya masih tetap Piala Tiger sudah sempat final serta semi final. Saat ini peluang saya menjadi pelatih untuk dapat membawa Indonesia juara,” kata Bima Sakti pada situs situs PSSI.

Tidak cuma di Piala AFF/Tiger, di SEA Games ikut Indonesia telah lama tidak rasakan titel juara. Paling akhir pada 1991. Riwayat memang tidak adil buat beberapa runner-up. Walau terkadang kemenangan bukan hal yang mutlak, tetapi riwayat cuma mencatat beberapa juara.

Apalagi Indonesia telah khatam jadi pecundang yang hampir juara. Kekalahan untuk kekalahan di final selalu berlangsung dengan vs bermacam, dari mulai kalah dengan hasil (tidak hoki), kalah dengan permainan, sampai tragisnya seringkali dibalut berbau kotoran gajah yang busuk.

Tidak di Piala AFF, tidak di SEA Games. Semua serba “hampir”, yang selanjutnya selalu dikisahkan dari generasi ke generasi: nyarih menaklukkan Uni Soviet di Olimpiade 1956, hampir lolos Olimpiade 1976, hampir juara Piala AFF, hampir juara SEA Games, hampir ke Piala Dunia U20, serta nyaris-nyaris yang lain. Jangan pernah kita selalu terlatih hampir hingga julukan Indonesia seperti “(sempat jadi) Macan Asia” rasa-rasanya tidak basi-basi.

Bima Sakti Belumlah Memiliki pengalaman

Penunjukan Bima Sakti sebetulnya mengundang pro-kontra. Ia diangkat jadi pelatih kurang dari dua minggu mendekati Piala AFF 2018. Eks kapten Tim nasional Primavera ini pula tidak miliki pengalaman melatih tidak hanya jadi asisten pelatih Tim nasional Indonesia bimbingan Luis Milla serta Persiba Balikpapan. Walaupun demikian, kapasitasnya menjadi figur yang sangat dekat dengan Luis Milla diinginkan dapat melanjutkan apakah yang telah dibuat Tim nasional Indonesia bersama dengan Luis Milla semenjak awal 2017.

“[Setelah] 3x uji tanding tempo hari, PSSI mengusung Bima Sakti sebab menjalankan pekerjaannya dengan baik. Tempat ketua umum juga memberi instruksi, [Bima Sakti] pelatih muda, kompetensinya mencukupi karena itu, kualifikasinya ikut tercukupi, serta kita miliki kepercayaan Bima Sakti dapat mengemban pekerjaan berat ini,” tutur Wakil Ketua Umum PSSI, Joko Driyono.

PSSI mengharap Bima Sakti dapat menyerap semuanya yang sudah “di ajarkan” Luis Milla kepadanya, ikut beberapa pemain Indonesia yang tidaklah terlalu bongkar-pasang dalam dua tahun paling akhir. PSSI memang tidak mencari figur pelatih baru saat negosiasi dengan Milla tidak selesai sesuai dengan gagasan.

“Semenjak awal Luis duet dengan Bima Sakti. Team AFF ini background-nya ialah team Asian Games. Bima Sakti ikut serta serta bersama dalam pembentukan team sampai saat ini,” sambung Jokdri.

Dibawah bimbingan Bima Sakti, Tim nasional Indonesia sudah melakukan tiga pertandingan pertemanan: menantang Mauritius (1-0), Myanmar (3-0) serta Hong Kong (1-1). Di ke-3 pertandingan itu pelatih berumur 42 tahun ini sering memakai skema basic 4-2-3-1, seperti yang seringkali diambil oleh Luis Milla. Tiada kalah, Bima Sakti miliki modal bagus mendekati Piala AFF 2018.

Scuad Masak di Asian Games

Memeriksa apakah yang disebutkan Joko Driyono, PSSI memang akan membuat Tim nasional Indonesia tampil dengan scuad yang telah mereka buat persiapan jauh sebelum Piala AFF. Semenjak dilatih Luis Milla, yang menukangi scuad U23, Tim nasional Indonesia selalu memercayakan pemain dibawah umur 23 tahun plus beberapa pemain senior. Semua disiapkan untuk melawan kejuaraan-kejuaraan yang dibarengi Indonesia, termasuk juga Piala AFF 2018 ini.

Jadi dapat disebut, beberapa pemain Indonesia sekarang ini, , adalah beberapa pemain dengan persiapan masak. Terutamanya beberapa pemain umur dibawah 23 tahun, plus Andritany Ardhyasa, beberapa kali sudah ikuti pemfokusan latihan, yang membuat mereka sering tinggalkan kesebelasan yang dibelanya.

Beberapa pemain yang di panggil Bima Sakti untuk Piala AFF ini juga tidak berlainan jauh dengan scuad yang melakukan pertandingan pertemanan internasional menantang Mauritius, Myanmar, serta Hong Kong pada September serta Oktober kemarin. Walaupun demikian ada banyak pemain yang dicoret, yaitu Dedi Kusnandar (cedera), Rezaldi Hehanusa (cedera), Hanif Sjahbandi, Alfin Tuasalamony, Ilham Udin Armaiyn, Abdul Rahman Sulaeman, serta Boaz Solossa.

Untuk 23 pemain yang didaftarkan ke Piala AFF 2018, hampir semua telah membela tim nasional senior semenjak September menantang Mauritius. Andik Vermansah yang masuk paling akhir menjadi alternatif Saddil Ramdani juga awal mulanya di panggil waktu melawan Hong Kong.

Beberapa pemain Indonesia sekarang ini memang minim caps senior. Cuma ada tujuh pemain yang sudah bermain di Tim nasional senior lebih dari 10 pertandingan. Beto Goncalves yang telah berusia 37 tahun, baru dinaturalisasi awal tahun 2018 hingga baru mempunyai dua caps. Caps paling banyak dipunyai Fachrudin Ariyanto, dengan 31 pertandingan.

Scuad Indonesia kesempatan ini memang sebagian besar ditempati beberapa pemain umur 23 tahun, dimana Awan Setho serta Bagas Adi jadi pemain termuda (21 tahun). Rataan usia scuad Indonesia di Piala AFF kesempatan ini juga ada di angka 24,65 tahun. Tetapi angka itu sebetulnya cuma turun dikit dari tahun 2016 yang mempunyai rataan usia 24,95 tahun.

Perbedaannya, beberapa pemain muda Indonesia yang telah rasakan Piala AFF pada 2016 seperti Evan Dimas serta Hansamu Yama juga sekarang tambah lebih masak. Andritany yang dua tahun yang lalu tidak bermain sekali juga sebab Kurnia Meiga telah jadi penjaga gawang nomer 1 Indonesia.

Hansamu ikut sekarang telah ditunjuk menjadi kapten tim nasional. Tidak dipanggilnya Boaz membuat Hansamu yang telah terlatih jadi kapten di level tim nasional U23 naik level. Pada Piala AFF 2016, pemain berumur 23 tahun ini sudah jadi pemain kunci di posisi pertahanan, bersama dengan Fachrudin. Bek Barito Putera ini pula memberi dua gol, yang ia bikin pada leg pertama semi final menantang Vietnam serta leg pertama final menantang Thailand.

Evan Dimas telah berkembang tambah lebih hebat. Ia jadi satu dari tiga pemain yang bermain di tiga Piala AFF bersama dengan Fachrudin serta Rizky Pora. Pemain kelahiran Surabaya ini terdaftar menjadi juara Liga 1 2017 bersama dengan Bhayangkara FC serta sekarang membela kesebelasan Malaysia Super League, Selangor FA.

Akan tetapi pemain yang bisa menjadi andalan Indonesia ialah Stefano Lilipaly. Cetak dua gol pada kiprah Piala AFF-nya dua tahun kemarin, ia sekarang hadir dengan statistik oke di Liga 1 2018. Di Bali United, sekarang ia terdaftar cetak 11 gol serta 2 asis dari 19 kali bertanding. Pemain keturunan Belanda itu bisa menjadi figur terpenting di belakang Beto Goncalves sebagai striker tunggal.

SiapHarus Juara Piala AFF 2018!

Dengan beberapa pemain yang telah bermain bersama dengan, bahkan juga beberapa pemain telah dua tahun bersama dengan di tim nasional plus rangkaian pemfokusan latihan selama 2018, Indonesia tidak miliki kembali fakta “persiapan belumlah masak” bila kelak tidak berhasil juara.

Indonesia memang seharusnya selekasnya memenangkan Piala AFF, yang disebut “Piala Dunia-nya beberapa negara Asia Tenggara”. Bila di Piala AFF saja masih tetap tidak berhasil juara, rasa-rasanya bermain di Piala Asia ditambah lagi Piala Dunia masih tetap mimpi. Bima Sakti, orang Indonesia pertama yang rasakan Piala AFF menjadi pemain serta pelatih, mengemban pekerjaan berat itu.

Di lain sisi, menjadi saingan paling berat, . Diluar itu, Filipina serta Vietnam ikut konsentrasinya terpecah untuk bertanding di Piala Asia awal tahun 2019 kelak di Uni Emirat Arab. Jadi lumrah bila beberapa orang memandang ini waktu yang pas buat Indonesia untuk juara.

Indonesia tidak dapat terus menerus hampir juara. Mari, Bung! Ini “cuma” level Asia Tenggara, lho! Asia Tenggara saja masih tetap tidak ada apa-apanya di level Asia, ditambah lagi dunia, Kecil sekali standard kita ini.

Indonesia perlu satu perolehan baru, satu tonggak riwayat. Indonesia tidak dapat terus menerus memoles artefak pra-sejarah pada saat beberapa tetangga telah meluncur serta memancangkan target-target baru yang lebih jauh. Apakah bisa buat, beban itu—ya, beban—kali ini berada di bahu Bima Sakti serta beberapa pemain.

“Yoayo, mari Indonesia. Ku ingin kita mesti menang…”

“Garuda di dadaku. Garuda kebanggaanku. Ku meyakini ini hari tentu menang…”

Nyanyain-nyanyian itu akan tetap ada tiap-tiap beberapa pemain Indonesia menancapkan kakinya diatas rumput lapangan untuk membela garuda di dada. Rakyat Indonesia mesti terang-terangan menjelaskan ini ialah “beban” sebab tidak ingin selalu berkompromi atau berpura-pura: Indonesia ingin titel juara!

Cukup dengan itu riwayat akan mengingat nama kalian, kembali kenang sampai lama, sampai jauh di masa datang; sebab riwayat cuma mengingat beberapa juara.

About admin